Software Pembuat Video Dakwah Otomatis – Gratis! Solusi Cerdas Konten Kreator Muslim

Software Pembuat Video Dakwah Otomatis – Gratis! Solusi Cerdas Konten Kreator Muslim

 

Di era digital saat ini, kebutuhan akan konten video yang cepat, menarik, dan konsisten semakin tinggi. Terlebih bagi para pegiat dakwah, kreator konten Islami, atau affiliate marketer yang ingin menyebarkan kebaikan melalui platform seperti YouTube Shorts, TikTok, dan Instagram Reels. Namun, tidak semua orang memiliki waktu atau keahlian untuk mengedit video secara manual.

Kini, hadir solusi revolusioner: Auto Video Short, software desktop buatan anak bangsa asal Aceh yang memungkinkan Anda membuat video dakwah, quotes Islami, dan konten shorts secara otomatis hanya dalam beberapa klik. Dan kabar baiknya, software ini GRATIS!

Apa Itu Auto Video Short?

Auto Video Short adalah software desktop inovatif yang dirancang khusus untuk membantu umat Muslim dalam membuat konten video dakwah dengan cepat dan profesional. Dengan teknologi otomatisasi, Anda tidak perlu lagi repot-repot mengedit video frame by frame. Cukup siapkan teks, maka software akan bekerja secara otomatis menghasilkan video yang siap upload.

Software ini sangat cocok untuk:

  • Kreator YouTube Shorts yang ingin rutin upload konten Islami

  • Kreator TikTok Islami yang membutuhkan variasi video quotes

  • Pembuat Konten Instagram Reels dengan tema religius

  • Konten dakwah harian untuk media sosial pribadi atau organisasi

  • Affiliate marketing niche Islami yang membutuhkan video promosi bernuansa syar'i

🚀 Fitur Unggulan Auto Video Short

Apa saja yang membuat software ini wajib Anda coba? Berikut adalah fitur-fitur andalannya:

1. ✅ Random Background Islami

Bosan dengan background yang itu-itu saja? Auto Video Short dilengkapi dengan beragam pilihan background Islami yang indah dan menenangkan. Setiap kali Anda membuat video, background akan muncul secara acak, sehingga konten Anda selalu terlihat segar dan tidak monoton.

2. ✅ Voice Otomatis (Text to Speech)

Tidak perlu merekam suara sendiri! Fitur Text to Speech akan mengubah naskah dakwah atau quotes yang Anda tulis menjadi suara yang jelas dan enak didengar. Ini sangat membantu bagi Anda yang mungkin tidak memiliki suara "broadcast" atau sedang berada di tempat yang tidak memungkinkan untuk rekaman.

3. ✅ Background Music

Suasana dakwah akan semakin syahdu dengan tambahan musik latar (background music) yang sesuai. Software ini menyediakan pilihan musik instrumental Islami yang akan membuat video Anda lebih hidup dan menyentuh hati.

4. ✅ Render Otomatis

Setelah semua elemen disusun secara otomatis oleh sistem, proses render atau ekspor video juga dilakukan secara otomatis. Anda tidak perlu menunggu lama-lama. Tinggal klik, maka dalam hitungan menit, video berkualitas siap untuk dipublikasikan.

5. ✅ Splash Screen Profesional

Kesan pertama yang profesional sangat penting. Auto Video Short dilengkapi dengan splash screen pembuka yang modern dan menarik, memberikan sentuhan profesional pada setiap video yang Anda hasilkan.

6. ✅ Tampilan GUI Modern

Jangan bayangkan software ini kuno dan sulit digunakan. Auto Video Short hadir dengan antarmuka pengguna grafis (GUI) yang modern, bersih, dan intuitif. Bahkan pengguna pemula sekalipun bisa langsung mengoperasikannya tanpa perlu membaca manual yang panjang.

7. ✅ Output Siap Upload

Hasil akhir video langsung diformat sesuai dengan kebutuhan platform media sosial terkini. Anda tidak perlu lagi mengubah ukuran atau kompres file. Video siap langsung diupload ke YouTube Shorts, TikTok, atau Instagram Reels.

Mengapa Harus Auto Video Short?

  1. Hemat Waktu: Buat lusinan video dalam hitungan menit.

  2. Gratis!: Tidak perlu biaya langganan bulanan atau investasi mahal.

  3. Buatan Anak Bangsa: Bangga menggunakan karya inovatif dari Rencong Aceh.

  4. Konsistensi Konten: Dengan proses yang cepat, Anda bisa lebih konsisten dalam berdakwah di media sosial.

Mulai Berdakwah dengan Karya Terbaikmu!

Media sosial adalah ladang pahala yang luar biasa. Setiap konten Islami yang Anda sebarkan bisa menjadi amal jariyah. Dengan Auto Video Short, tidak ada lagi alasan untuk tidak berkontribusi dalam menyebarkan kebaikan.

Jangan biarkan keterbatasan waktu dan skill menghalangi niat mulia Anda. Segera dapatkan software pembuat video dakwah otomatis gratis ini dan rasakan kemudahan dalam membuat konten Islami berkualitas!


📥 Cara Download dan Install Auto Video Short

Proses mendapatkan dan menjalankan software ini sangat mudah. Ikuti langkah-langkah berikut:

  1. Klik link download yang tersedia di bawah artikel ini.

  2. Extract file ZIP yang sudah diunduh menggunakan software seperti WinRAR atau 7-Zip.

  3. Jalankan file Auto Video Short.exe.

  4. Tidak perlu install Python atau dependency lainnya.

  5. Tidak perlu setting rumit, langsung bisa dipakai!

🖥 Tampilan Awal Aplikasi

Saat pertama kali aplikasi dibuka, Anda akan disambut dengan:

  • Splash screen profesional yang muncul sesaat.

  • Logo Rencong Aceh sebagai identitas pengembang.

  • Informasi versi software yang sedang digunakan.

  • Setelah itu, Anda akan langsung masuk ke halaman utama yang siap digunakan.

📝 Cara Menggunakan Auto Video Short

Membuat video dakwah hanya butuh 4 langkah sederhana:

1️⃣ Siapkan Script

Buat file teks baru di komputer Anda dan beri nama:

  • script.txt atau

  • input.txt

Contoh isi file:

Jangan pernah menyerah dalam berdoa.
Karena Allah mendengar setiap doa hambanya.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. (QS. Al-Baqarah: 286)

Tips: Buatlah kalimat yang pendek, padat, dan menyentuh hati untuk hasil maksimal.

2️⃣ Pilih Script

  • Klik tombol 🟢 Pilih Script yang ada di antarmuka software.

  • Arahkan dan pilih file .txt yang sudah Anda siapkan tadi.

3️⃣ Klik Generate

  • Tekan tombol 🚀 Generate Video.

  • Sistem akan bekerja secara otomatis melakukan serangkaian proses:

    • Membuat voice otomatis (Text to Speech) dari script Anda.

    • Memilih background islami secara random dari koleksi yang tersedia.

    • Menambahkan background music yang syahdu.

    • Merender video menjadi satu kesatuan yang utuh.

    • Menyimpan hasil akhir di folder khusus.

4️⃣ Lihat Hasil Video

  • Setelah proses selesai, klik tombol 📂 Buka Folder.

  • Semua video hasil render akan tersimpan rapi di dalam folder bernama output.

  • File video siap untuk langsung diupload ke YouTube Shorts, TikTok, atau Instagram Reels!

📊 Tips Maksimalisasi Konten Dakwah

Agar video dakwah Anda semakin berdampak dan berpotensi viral, terapkan tips berikut:

✔ Gunakan hook di 3 detik pertama: Pastikan kalimat pembuka langsung menarik perhatian.
✔ Gunakan kalimat pendek dan menyentuh: Pesan yang singkat lebih mudah dicerna dan diingat.
✔ Upload konsisten setiap hari: Algoritma media sosial menyukai kreator yang aktif.
✔ Tambahkan caption yang kuat: Tuliskan pertanyaan reflektif atau ajakan berdiskusi di kolom caption.
✔ Gunakan audio yang relevan: Sesuaikan dengan tren, namun tetap dalam koridor Islami.

📌 Spesifikasi Minimum

Pastikan perangkat Anda memenuhi spesifikasi berikut agar software berjalan lancar:

  • Sistem Operasi: Windows 10 atau Windows 11

  • RAM: Minimal 4GB

  • Koneksi Internet: Tidak diperlukan saat proses render (offline)

🎁 Gratis Versi Perdana!

Saat ini, Auto Video Short dibagikan GRATIS sebagai versi perdana. Ini adalah kesempatan emas untuk merasakan kemudahan membuat konten dakwah otomatis.

Jika Anda membutuhkan fitur yang lebih canggih, tim pengembang berencana merilis versi premium dengan fitur-fitur seperti:

  • Auto SEO Title untuk YouTube

  • Auto Hashtag

  • Watermark Brand

  • Batch 20 Video Sekali Klik

  • License Key System

Nantikan kehadirannya!

👤 Tentang Developer

Software inovatif ini dikembangkan dengan penuh dedikasi oleh:
Rencong Aceh
Website: https://rencongaceh.my.id

📥 Download Auto Video Short Sekarang Juga!

Siap membuat konten dakwah tanpa ribet? Klik tombol di bawah untuk mengunduh softwarenya secara gratis.

Jika tutorial dan informasi tentang Software Pembuat Video Dakwah Otomatis - Gratis! ini membantu, jangan lupa untuk bagikan ke teman-teman Anda. Semakin banyak orang yang terbantu, semakin banyak pula pahala kebaikan yang mengalir.

Semoga bermanfaat dan dimudahkan dalam setiap langkah dakwah kita 🤲


Gratis! Tool Video Rotate untuk Desktop Stand-Alone Untuk OS Windows

Gratis! Tool Video Rotate untuk Desktop Stand-Alone Untuk OS Windows


Apakah video yang kamu rekam sering terbalik atau miring? Jangan khawatir! Kini ada solusi mudah dengan tool Video Rotate desktop yang bisa digunakan siapa saja, gratis, tanpa ribet. Tersedia versi stand-alone yang bisa langsung dijalankan.


Mengapa Harus Menggunakan Tool Video Rotate Ini?

Video yang tidak sejajar bisa membuat pengalaman menonton jadi kurang nyaman. Dengan aplikasi rotate video ini, kamu bisa:

  • Memutar video dengan cepat: 90°, 180°, 270°
  • Mendukung berbagai format populer: MP4, AVI, MOV
  • Menggunakan versi stand-alone tanpa instalasi
  • Antarmuka sederhana dan ramah pengguna


Pilihan Download Gratis

Versi Stand-Alone

  • Langsung jalankan tanpa instalasi
  • Cocok untuk dibawa di USB atau digunakan di PC lain
  • Link download: Unduh Stand-Alone Gratis

Tampilan Tool Link Download 1

Cara Menggunakan Tool Video Rotate

  1. Buka aplikasi.
  2. Pilih video yang ingin diputar.
  3. Tentukan derajat rotasi (90°, 180°, 270°).
  4. Klik Rotate dan tunggu proses selesai.
  5. Video baru siap ditonton atau dibagikan.

Mudah, cepat, dan gratis! Tidak perlu software tambahan atau tutorial rumit.

Tampilan tool Link Download 2


Tips & Trik

  • Gunakan versi stand-alone jika sering berpindah komputer.
  • Pastikan format video didukung agar proses rotasi berjalan lancar.


Dengan tool video rotate desktop ini, memutar video kini jadi cepat, mudah, dan tanpa biaya. Tersedia dua versi: installer dan stand-alone, sehingga kamu bisa menyesuaikan dengan kebutuhan.

Download sekarang dan nikmati kemudahan memutar video kapan saja!

Download di link dibawah ini :



 






7X Lebih Cepat! Download Aplikasi Bulk Rename File Gratis

7X Lebih Cepat! Download Aplikasi Bulk Rename File Gratis

 


Download Aplikasi Bulk Rename File Gratis untuk Windows (Tanpa Install)

Pernah capek rename file satu per satu?

Bayangkan kamu punya 300 foto, 100 file video, atau ratusan dokumen dengan nama berantakan seperti:

IMG_20250101.jpg IMG_20250102.jpg VID_2025_random.mp4

Rename manual? Bisa habis waktu setengah jam lebih.

Karena itulah saya membuat Aplikasi Bulk Rename File versi desktop (EXE) yang bisa langsung digunakan tanpa perlu install Python atau software tambahan.

Tinggal klik → jalankan → rename ratusan file dalam hitungan detik.


✨ Fitur Utama Aplikasi Bulk Rename

Berikut fitur yang bisa kamu gunakan:

  • ✅ Rename banyak file sekaligus dalam satu folder
  • ✅ Tambah nomor otomatis (001, 002, 003…)
  • ✅ Ganti nama dengan prefix atau suffix
  • ✅ Ringan & cepat
  • ✅ Tidak perlu install (langsung jalan file .exe)
  • ✅ 100% Gratis


Aplikasi ini cocok untuk:

  • Content creator
  • Editor video
  • Fotografer
  • Blogger
  • Admin file kantor
  • Mahasiswa


⚡ Kenapa Harus Pakai Bulk Rename Tool Ini?

Banyak tool rename di luar sana, tapi kebanyakan:

  • Berat
  • Harus install
  • Banyak fitur tidak penting
  • Bahkan berbayar

Aplikasi ini dibuat simpel, ringan, dan fokus ke kebutuhan utama: rename cepat dan massal.

Ukuran kecil, performa cepat, tanpa ribet.


📥 Download Aplikasi Bulk Rename Gratis


File yang didapat:

  • Format: .exe
  • OS: Windows 10 & 11
  • Ukuran: ringan


🛠 Cara Menggunakan Aplikasi Bulk Rename

  1. Download file .exe
  2. Klik dua kali untuk menjalankan
  3. Pilih folder yang ingin di-rename
  4. Masukkan nama baru
  5. Klik tombol Rename
  6. Selesai 🎉

Dalam beberapa detik, semua file langsung berubah nama.


🔐 Apakah Aplikasi Ini Aman?

Ya.
Aplikasi ini dibuat sendiri dan tidak mengandung malware atau script berbahaya.

Jika Windows menampilkan SmartScreen warning, klik:
More Info → Run Anyway

Itu normal karena aplikasi belum memiliki sertifikat digital.


🚀 Penutup

Kalau kamu sering mengelola banyak file, aplikasi ini akan sangat membantu dan menghemat waktu.

Silakan download gratis dan gunakan sepuasnya.

Kalau ada saran fitur tambahan, bisa tulis di kolom komentar blog rencongaceh.my.id 😉

Novel Edisi Ramadhan: Mimpi di Serambi Hijau

Novel Edisi Ramadhan: Mimpi di Serambi Hijau

 


Sinopsis Novel "MIMPI DI SERAMBI HIJAU"


Ariel Arrafi (32), arsitek sukses di Jakarta, hidup dalam pusaran dunia glamor dan materialistik. Baginya, kesuksesan diukur dari proyek mewah dan rekening bank yang tebal. Ketika ibunya, Hajah Rahimah (60), memintanya pulang ke Medan untuk merenovasi surau tua peninggalan almarhum ayahnya—seorang guru mengaji yang ia anggap "gagal" secara finansial—Ariel menolak. Bagi Ariel, surau itu adalah simbol kenangan pahit: ayahnya lebih memilih mengajar anak-anak kampung daripada membangun karier yang menghasilkan uang.


Namun, setelah ibunya jatuh sakit ringan dan memohon dengan air mata, Ariel akhirnya menyetujui dengan setengah hati. Kembali ke Medan dua bulan sebelum Ramadan, ia berniat menyelesaikan proyek ini secepat mungkin. Tapi ia tak menyangka, Surau Al-Ikhlas yang lapuk itu justru akan merenovasi seluruh hidupnya. Di hadapan Salma (27), relawan muda yang penuh semangat mengelola TPA, di antara para jemaah tua yang sederhana namun bahagia, dan dalam kenangan tentang ayahnya yang mulai terkuak satu per satu, Ariel dipaksa menghadapi pertanyaan terbesar: Apakah bangunan terindah yang ia ciptakan selama ini justru adalah penjara bagi jiwanya sendiri? Ketika Ramadan tiba, bukan hanya surau yang bertransformasi, tetapi juga hati seorang anak yang selama ini tersesat dalam definisi sukses yang keliru.


BAB 1: PROYEK 20 MILIAR VS SERAMBI LAPUK

Kontrak senilai 20 miliar itu hampir saja ia dapatkan, sebelum telepon dari Medan menghancurkan segalanya.

Ariel Arrafi menatap layar laptop dengan kepala dingin—atau setidaknya berusaha. Di hadapannya, tiga perwakilan konsorsium properti terbesar di Asia Tenggara duduk rapi dengan senyum profesional.

“Arrafi Design punya reputasi internasional,” ujar pria berkacamata di ujung meja. “Tapi proyek ini berbeda. Kami butuh sentuhan yang... lokal.”

Ariel mengangguk satu kali.

“Lokal dengan standar global. Saya paham.”

Ia menggeser iPad, memunculkan render 3D. Tower kaca menjulang di atas skybridge berornamen batak—modern, tapi tak tercerabut dari akar.

Raut wajah pria itu berubah. Tertarik.

Getaran.

Ariel menekan tombol mati di saku jas.

“Filosofi desain saya sederhana,” lanjutnya, suara datar. “Masa depan tak harus melupakan masa lalu.”

Getaran lagi. Lebih panjang.

Ibu.

Tombol mati ditekan sekali lagi.

Dua menit kemudian, ponselnya bergetar ketiga kalinya. Rendi, partner bisnisnya di seberang meja, melirik dengan alis terangkat.

Ariel mengabaikan.

Dia sudah bilang pada ibu. Jangan ganggu.


Empat puluh lima menit kemudian, di luar ruang meeting, Ariel memencet nomor itu dengan jari yang sedikit kaku.

“Ya, Bu.”

Suara di seberang tidak langsung menjawab. Hanya tarikan napas panjang. Ariel mengenali napas itu—selalu pertanda sesuatu yang berat.

“Nak... Ibu sudah telepon dari tadi.”

“Ada meeting penting, Bu.”

“Maaf. Ibu tahu kau sibuk.” Jeda. “Tapi surau ayahmu...”

Ariel memejamkan mata.

“Surau.”

“Atapnya ambruk bagian belakang. Semalam hujan besar. Pak Udin bilang kalau tidak segera diperbaiki...” Suara ibu mengecil, seperti menelan kata-kata yang menyakitkan. “...mungkin tidak akan sampai Ramadan.”

Di garis telepon, jarak Jakarta-Medan terasa seperti abad.

“Ibu mau saya kirim uang?” tanya Ariel. Cepat. Efisien. “Saya bisa transfer—”

“Bukan uang, Nak.” Ibu memotong, lembut tapi tegas. “Ibu mau kau pulang.”

Udara di lobi hotel bintang lima terasa sesak.

“Saya tidak bisa, Bu. Ada proyek—”

“Ayahmu membangun surau itu dengan tangannya sendiri. Tanpa arsitek, tanpa kontraktor. Hanya dia, kapak, dan paku.” Ibu berhenti. “Sekarang bangunan itu mau roboh. Siapa lagi yang bisa memperbaikinya kalau bukan kau?”

Ariel tidak menjawab.

Di belakang kelopak matanya, tiba-tiba muncul bayangan: seorang lelaki tua berpeci lusuh, duduk di serambi surau, membaca kitab kuning dengan punggung membungkuk. Wajahnya kabur, tapi Ariel tidak perlu melihat jelas untuk tahu siapa.

Lelaki yang memilih seratus anak kampung daripada satu anak kandungnya sendiri.

“Tiga hari,” gumam Ariel, hampir tidak terdengar.

“Nak?”

“Saya pulang. Tapi hanya tiga hari.” Ia menggeser dasi yang tiba-tiba terasa mencekik. “Saya lihat kondisinya, cari kontraktor lokal, urus semuanya dari Jakarta. Selesai.”

Ibu diam lama.

“Baik, Nak. Ibu tunggu.”


Telepon berakhir.

Ariel berdiri di tepi jendela lantai dua puluh tujuh, memandang Jakarta yang berkilauan di bawah senja. Di kejauhan, crane-crane raksasa menjulang seperti burung besi yang tak pernah lelah.

Lima belas tahun lalu, ia berdiri di depan surau itu dengan koper murah dan hati penuh dendam. Ayahnya hanya berkata, “Kau yakin?”

Dan Ariel menjawab, “Ayah memilih mereka daripada aku.”

Lelaki tua itu tidak membantah. Tidak menjelaskan. Hanya diam, seperti dinding surau yang mulai retak.

Ariel menghela napas.

Dia lupa persisnya kapan terakhir kali bicara dengan ayahnya sebelum lelaki itu pergi. Yang ia ingat hanyalah telepon dari ibu, lima tahun lalu, dengan suara bergetar:

“Ayahmu sudah tenang, Nak. Semalam, ba'da Isya.”

Ariel tidak pulang waktu itu.


“Aris?”

Rendi muncul dari balik pintu kaca, menepuk bahunya. “Gimana? Bos konsorsium tadi minta kontak kita. Kayaknya deal.”

Ariel menggeser pandangan dari jendela.

“Oke.”

“Oke doang?” Rendi menyipit. “Lo baru aja rebutan proyek 20 miliar sama lima firma internasional, terus lo diem aja? Lo sakit?”

Ariel memasukkan ponsel ke saku jas.

“Gue ke Medan besok.”

Rendi terbelalak. “Medan? Sekarang? Kita harus presentasi lanjutan Jumat depan—”

“Gue balik Senin.”

“Lo gila? Ini proyek terbesar sepanjang—”

“Gue bilang balik Senin.”

Suaranya lebih tajam dari yang ia inginkan.

Rendi mundur setengah langkah. Mengangkat kedua tangan.

“Oke, bos. Lo bos.”


Malam itu, Ariel duduk di apartemennya yang sunyi.

Dinding kaca, furnitur Italia, pemandangan cakrawala Jakarta. Kamar mandi lebih luas dari rumah ibu di Medan.

Dari stereo, playlist jazz mengalir pelan.

Tapi telinganya masih dipenuhi suara ibu: Siapa lagi yang bisa memperbaikinya kalau bukan kau?

Ariel membuka laci nakas. Di antara paspor dan arloji cadangan, sebuah foto usang terselip.

Dia tidak pernah tahu kenapa foto itu masih ada.

Seorang bocah laki-laki sekitar delapan tahun, duduk di serambi surau dengan buku Iqra di pangkuan. Di sampingnya, lelaki berpeci putih membimbing tangannya yang mungil menelusuri huruf demi huruf.

Alif. Ba. Ta.

Bocah itu tersenyum.

Sekarang, lelaki di foto itu sudah tiada. Dan bocah itu—dirinya—tidak ingat kapan terakhir kali tersenyum seperti itu.

Ariel menutup laci.


Pesawat mendarat di Kualanamu pukul sepuluh pagi.

Udara Medan menyambutnya dengan uap basah dan langit kelabu. Tidak seperti Jakarta yang kering dan berdebu, di sini aroma tanah basah dan tanaman tua bercampur jadi satu.

Ariel menarik koper cabin-nya melewati terminal. Jas mahal, arloji eksklusif, sepatu pantofel mengilap. Ibu bilang supir ojek online akan menjemput.

“Mas Ariel?”

Suara itu datang dari arah pintu keluar.

Seorang perempuan berdiri di antara gerombolan tukang ojek. Usianya sekitar dua puluhan, jilbab biru dongker, kemeja lengan panjang dipadu jeans. Di tangannya, papan kertas bertuliskan: ARIEL ARRAFI—dengan spidol warna-warni, dihias bunga kecil di sudutnya.

Ariel mengerjap.

“Ibu saya yang minta?”

Perempuan itu tersenyum. “Iya. Saya Salma. Kebetulan tadi ngajar TPA di dekat sini, sekalian jemput.”

Dia menjabat tangan Ariel—singkat, wajar.

“Motornya di parkiran. Sini.”

Ariel menatap koper cabin-nya. Lalu sepatu pantofelnya. Lalu bajannya yang disetrika rapi pukul enam pagi tadi.

Salma menoleh. “Ada masalah, Mas?”

“Tidak.”

“Pasti kuat,” katanya, seperti meyakinkan diri sendiri.


Motor itu tua. Merek Jepang, tahun berapa pun Ariel tidak tahu.

Dan joknya sempit.

Ariel duduk di belakang dengan koper diselipkan di antara kedua kakinya, postur kaku, siku sedikit terangkat agar tidak menyentuh jilbab biru itu.

“Pegangan, Mas. Jalanan depan rusak.”

“Saya pegang sini—”

Tapi motor sudah oleng.

Refleks, Ariel memegang jok belakang—dan hampir saja memegang bahu Salma sebelum menarik tangannya cepat-cepat.

Salma tertawa kecil. “Boleh pegang, Mas. Saya enggak gigit.”

Ariel tidak menjawab.

Di kanan-kiri, deretan ruko dan pohon mahoni berlarian cepat. Bau asap kendaraan bercampur aroma martabak dari pinggir jalan.

Ia sudah lima tahun tidak pulang.

Tapi jalanan ini, tikungan ini, jembatan kecil yang dilapisinya—semuanya seperti belum berubah sama sekali.

“Surau Al-Ikhlas,” ujar Salma sambil sedikit menengok, “itu tempat ayah Mas Ariel dulu ngajar, ya?”

Ariel diam.

“Waktu kecil saya pernah ikut ayah ke sana. Saya ingat, beliau orangnya... tenang sekali. Murid-muridnya banyak yang nangis pas beliau wafat.”

Dada Ariel sesak.

“Saya belum lahir waktu itu, sih. Cerita ayah saya.” Salma menambah gas. “Tapi kata orang, guru ngaji seikhlas beliau itu langka.”

Ariel menelan ludah.

“...Ya.”

Hanya itu yang bisa ia katakan.


Rumah ibu masih sama.

Pagar besi mulai mengelupas catnya. Taman depan tidak lagi serapi dulu, tapi pot-pot kamboja masih berjejer rapi di bawah jendela.

Ariel turun dari motor, lututnya agak kaku.

“Terima kasih.”

“Sama-sama, Mas. Saya ke surau dulu, ada anak-anak TPA nunggu.” Salma sudah memutar stang. “Oh ya, selamat datang di Medan.”

Motor itu melesat pergi, meninggalkan Ariel di depan pagar dengan kopernya.

Dari dalam rumah, pintu kayu tua terbuka perlahan.

Seorang perempuan berjilbab putih berdiri di ambang pintu. Tubuhnya lebih kecil dari ingatan Ariel. Lima tahun membuatnya tampak lebih renta, lebih rapuh.

Tapi matanya—matanya basah dan berbinar.

“Nak...”

Ibu membuka kedua tangannya.

Dan Ariel, arsitek sukses berusia tiga puluh dua tahun dengan proyek 20 miliar di tangannya, hanya bisa berdiri membeku di depan pintu rumah yang lima tahun lalu ia tinggalkan tanpa menoleh.

“Ibu...”

Suaranya serak.

Ibu memeluknya.

Aroma melati dan bedak tua. Aroma yang sama sejak ia kecil, sejak ayah masih ada, sejak surau itu masih ramai dengan bacaan ayat suci.

“Sudah pulang,” bisik ibu. “Syukurlah, Nak. Syukurlah kau pulang.”

Ariel tidak membalas pelukan itu.

Tapi ia juga tidak menolak.


Setelah Isya, Ariel duduk di teras.

Ibu membawakannya teh manis hangat, lalu duduk di kursi rotan di sampingnya. Mereka diam, menatap langit Medan yang tertutup awan.

“Surau itu,” ibu memulai pelan, “besok kau lihat dulu ya, Nak. Pelan-pelan.”

Ariel menyesap tehnya.

“Saya bawa kontraktor dari Jakarta. Spesialis renovasi bangunan cagar budaya. Minggu depan bisa mulai.”

Ibu geleng kepala.

“Tidak usah. Di sini sudah ada Pak Udin. Beliau yang dulu bantu ayahmu bangun surau dari awal.”

Ariel meletakkan cangkir.

“Pak Udin umurnya tujuh puluh tahun, Bu. Mana mungkin beliau sendiri yang—”

“Dia punya anak buah. Tukang-tukang kampung. Biasa bangun masjid, surau, madrasah.”

“Berapa lama?”

“Sekitar empat puluh hari. Target Ramadan.”

Ariel menghela napas panjang.

“Bu, saya tidak bisa di sini empat puluh hari. Saya punya klien, proyek, tanggung jawab di Jakarta.”

Ibu tidak menjawab. Hanya menatapnya dengan mata teduh.

“Tiga hari,” ulang Ariel. “Maksimal.”

Ibu mengambil cangkir teh yang hampir tak tersentuh.

“Terserah kau, Nak. Yang penting kau sudah pulang.”


Malam semakin larut.

Ariel masuk ke kamar masa kecilnya. Kamar ini sudah disulap menjadi ruang tamu cadangan sejak ia merantau. Tapi ibu masih menyimpan lemari kayu tua itu—lemari peninggalan ayah.

Ia membuka ponsel. Dua belas notifikasi dari Rendi.

Rendi: Bos, konsorsium minta revisi moodboard.
Rendi: Lo udah nyampe? Medan panas ga sih?
Rendi: Jangan lama-lama, gue kedinginan sendirian di sini.
Rendi: Bercanda. Tapi serius. Cepet balik.

Ariel tidak membalas.

Ia mematikan layar, merebahkan diri di tempat tidur yang lebih keras dari kasur memory foam-nya di Jakarta.

Di luar, suara azan Isya dari surau terdengar samar.

Atau mungkin itu dari masjid sebelah.

Atau mungkin itu hanya ingatannya yang belum sepenuhnya pulih.


Besok pagi, ia akan ke surau.

Ia akan lihat kerusakannya, hitung biayanya, urus semuanya seperti proyek biasa. Analisis masalah, cari solusi, eksekusi.

Tiga hari. Cukup.

Ariel menarik selimut tipis itu hingga ke dagu.

Ayah memilih mereka daripada aku.

Ucapannya sendiri lima belas tahun lalu masih bergema di kepala.

Tapi malam ini, di kamar ini, di rumah ini, di kota yang dulu ingin ia tinggalkan selamanya—

Ariel tidak yakin apakah itu masih sepenuhnya benar.


Ariel menghela napas.

"Baik, Bu. Saya pulang."

Tapi dalam hatinya, ia sudah bertekad:

*Tiga hari. Maksimal. Lalu tinggalkan tempat ini selamanya. *


Bersambung Ke BAB 2 MEDAN, DALAM DUA DUNIA ,


Bab 2 dapat langsung anda baca di Aplikasi "FIZZO NOVEL"